Biji Salak Disulap Jadi Tas Cantik

VAVAlife – Siapa bilang biji salak tak bisa diolah menjadi produk berkualitas tinggi. Di tangan sekelompok mahasiswa Universitas Yogyakarta (UNY), biji salak pun bisa disulap menjadi kerajinan tangan unik, sebuah aksesori cantik untuk wanita.

Mereka yang tertarik mengolah limbah buah salak menjadi kerajinan unik ialah, Irawan Syarifuddin Daher dari program studi Pendidikan Luar Sekolah dan Muhamad Ridwan dari program studi PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan, Ninda Arum Rizky R dari mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni, serta Galih Dwi Jatmiko dari Fakultas MIPA UNY.

biji salak jadi tas
biji salak jadi tas

Di tangan mereka, limbah biji salak menjadi produk bernilai tinggi. Mereka, memanfaatkan biji salak menjadi aneka kerajinan tas.

Menurut Irawan Syarifuddin Daher, Jumat 12 Juli 2013, potensi pasar kerajinan tas masih cukup luas, baik di dalam negeri maupun mancanegara.
“Selain itu, Yogyakarta sebagai salah satu kota pariwisata di Indonesia, sangat mendukung berkembangnya industri kerajinan tas tersebut, terutama dalam mendukung perkembangan agrowisata salak di DIY,” kata Irawan Syarifuddin Daher.

Galih Dwi Jatmiko menambahkan bahwa tas biji salak ini diberi nama Ethlishthos yang merupakan singkatan dari ethnic and stylish kenthos.

“Keunggulan dan keunikan yang dimiliki dari produk Ethlishthos adalah menarik dari desain, bercorak khas, dan bernuansa etnik,” kata Galih Dwi Jatmiko.

“Nilai artistik dan natural dari rangkaian biji salak mampu memberikan nilai seni yang klasik,” tambahnya.

Selain itu, Ethlishthos merupakan produk inovatif yang ramah lingkungan dengan bahan baku berupa biji salak yang sangat murah dan mudah didapat. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau dan pangsa pasar mampu mencakup semua lapisan masyarakat.

Ninda Arum Rizky menjelaskan bahwa alur produksi wirausaha Ethlishthos diawali dengan persiapan bahan-bahan, termasuk proses pengawetan biji salak secara fisika melalui pemanasan untuk menurunkan kadar air biji salak.

Kemudian, dilanjutkan dengan finishing biji salak yang berupa pengukiran dan pembuatan lubang rangkaian serta pengembangan desain berupa rangkaian biji salak yang dirangkai menggunakan benang plastik.

Setelah itu, dilakukan pemotongan bahan-bahan sesuai pola yang telah ditentukan dan dilanjutkan dengan pemasangan merek dan aksesori tambahan serta penjahitan dan perakitan.

“Produk-produk yang akan dihasilkan dalam wirausaha Ethlishthos di antaranya tas cantik dengan berbagai variasi desain,” kata Ninda Arum Rizky.

Namun, dalam pengembangan usaha akan dilakukan produksi jenis-jenis kerajinan lain seperti dompet, tempat tissue, kap lampu, figura foto, tirai, dan lain-lain.

Mengenai keunikan dari produk tas ini, Muhamad Ridwan selaku divisi pemasaran menjelaskan bahwa peluang tas biji salak Ethlishthos ini untuk menembus pasar amat besar. Hal ini mengingat inovasi tas biji salak ini benar-benar baru dan belum pernah ada sebelumnya.
Selain itu, dia menjelaskan bahwa produk tas Ethlishthos sudah beberapa kali melakukan pameran dan respons pasar amat bagus.

Keunikan rangkaian biji salak dan desain tas yang etnik menjadi daya jual tinggi bagi masyarakat. Ke depan, keempat mahasiswa ini berharap bahwa rintisan wirausaha tas biji salak Ethlishthos ini dapat terus berkembang pesat, seiring dengan animo masyarakat.
Usaha ini juga diharapkan menjadi sentral usaha kerajinan biji salak yang dapat membuka lapangan kerja yang optimal bagi masyarakat. Selain itu, dapat meningkatkan daya tarik kota Yogyakarta, khususnya daerah Sleman dalam hal pariwisata belanja dan agrowisata salak. (art)

 

Advertisements